Selasa, 12 Januari 2016

Cerita rakyat Aceh Burung yang cerdik

Si Parkit Raja Parakeet
(Cerita Rakyat Aceh)



                Alkisah, pada zaman dahulu kala. Disebuah hutan belantara hidup seekor burung bernama Parkit, dia memiliki suara yang sangat bagus dan enak di dengar. Parkit sendiri merupakan pemimpin dari kawanannya, yaitu kawanan burung-burung parakeet.  
                Setiap hari Parkit dan kawanannya bernyanyi dengan suka cita dan penuh semangat. Mereka seringkali bersahut-sahutan satu sama lainnya. Di tengah suasana damai dan sejahtera, tiba-tiba datang seorang pemburu membawa perangkap-perangkapnya. Perangkap-perangkap tersebut diletakkan di sekitar sarang Parkit dan kawanannya. Mereka sadar, perangkap itu adalah perangkap yang biasanya digunakan untuk menangkap burung-burung parakeet.
“ hati-hati, pemburu itu pasti berniat menangkap kita, sebaiknya kita jangan ke mana-mana dulu!! ” teriak seekor burung mengingatkan.
“ iya benar, dia pasti berniat menjual kita ” tambah seekor burung lainnya.
                Mereka pun berdiam cukup lama disarangnya. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk keluar sebentar mencari makan. Namun, saat akan keluar mencari makan, hal yang tak diinginkan pun terjadi. Mereka terperangkap pada jebakan-jebakan pemburu. Spontan, kawanan burung parakeet itu meronta sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari perangkap tersebut. Tapi, meski di coba berulang kali dan di coba dengan sekuat tenaga, tetap saja mereka tidak bisa melepaskan diri dari perangkap pemburu yang begitu kuat. Kawanan burung itu pun merasa bingung harus berbuat apa, Karena segala cara dan upaya telah mereka usahakan.
                Melihat kawanannya yang bingung dan putus asa. Parkit yang  saat itu juga ikut terjebak, berusaha mencari ide untuk melepaskan dan menyelamatkan mereka semua.
“ tenanglah wahai semua kawananku!! ”  ucap Parkit dengan suara lantang dan keras, membuat semua burung terdiam dan menoleh ke arahnya.
“ perangkap ini adalah perangkap yang dirancang untuk tidak menyakti kita, itu berarti dia mau menangkap kita dalam keadaan hidup-hidup. Jadi, jika besok dia datang kembali untuk memeriksa perangkapnya, aku mau kita semua berpura-pura mati ” ucap Parkit.
“ berpura-pura mati? Untuk apa? ” tanya seekor parakeet keheranan.
Parkit pun tersenyum mendengar pertanyaan itu, dengan bijaksana dia menjelaskan alasannya.
“ seperti yang telah aku katakan, esok hari si pemburu akan kembali untuk memeriksa keadaan kita satu-persatu. Jika dilihatnya kita dalam keadaan mati tak bernyawa, dia akan meninggalkan kita semua di tempat ini. Saat itulah, aku akan menghitung satu sampai seratus. Saat telah sampai pada hitungan ke seratus, aku mau kita semua terbang secara bersamaan ” jelas Parkit dengan penuh bijaksana.
                Mendengar apa yang dikatakan Parkit, mereka pun mengerti dan paham apa yang akan di rencanakannya. Serentak mereka pun setuju dengan apa yang direncanakan si parakit. Keesokan harinya benar saja, pemburu itu datang kembali ke hutan untuk memeriksa perangkap-perangkapnya. Betapa gembiranya hati si pemburu. Saat dilihatnya dari kejahuan, banyak sekali burung yang terperekat di perangkapnya.  Ia pun dengan sigap mendekati dan melepaskan burung-burung itu dari perangkapnya. Namun setelah dilihatnya dengan seksama, tak ada satupun dari burung-burung itu yang masih menandakan tanda-tanda kehidupan. Semua burung yang terjebak di perangkapnya terbujur kaku seolah tak bernyawa. Ia pun merasa kecewa dan kesal, saking kesalnya ia berjalan asal-asalan dan terpeleset jatuh ke tanah. Mendengar suara jatuhnya si pemburu membuat kawanan burung itu kaget dan langsung berterbangan, mereka sama sekali tidak menunggu hitungan yang dihitung oleh si Parkit. Pemburu pun kaget bukan kepayang melihat kawanan burung itu terbang bersamaan. Ia merasa telah dibodohi dan dipecundangi oleh burung-burung parakeet itu. Dengan perasaan kesal ia bangkit dan memeriksa kembali perangkap yang dipasangnya. Saat diperiksa kembali, beruntung baginya karena masih ada burung parakeet yang belum terlepas betul dari perekatnya, burung parakeet itu ternyata adalah si Parkit raja parakeet. Pemburu pun dengan dengan semangat melepaskan dan menangkap si Parkit.
“ kau tak akanku ampuni ” bentak si pemburu dengan nada yang kasar.
“ tolong ampuni saya tuan, jangan sakiti saya ” kata si Pakit memohon.
“ enak saja kau, kau dan teman-temanmu itu sudah mempermainkan-ku ” kata si pemburu.
“ saya mohon tuan, jika kau tak menyakitiku, akan saya hibur kau setiap hari ” kata si Parkit.
“ menghibur? Memangnya kau bisa apa? ” tanya si pemburu.
“ aku bisa bernyanyi tuan ” jawab si Pakit.
“ kalau begitu, coba sekarang kau nyanyikan satu lagu untukku! ” peritah si pemburu.
Parkit pun menyanyikan sebuah lagu untuk si pemburu. suaranya begitu indah membuat si pemburu memutuskan untuk tidak menghabisinya.
“ baiklah, karena suaramu sangat indah, aku tak akan menghabisimu ” kata si pemburu.
Ia pun membawa Parkit pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah pemburu itu mengikat kaki Parkit dengan tali. Semenjak saat itu, setiap harinya Parkit selalu menyanyikan lagu untuk si Pemburu. Karena suara parkit yang begitu indah, membuatnya terkenal di kalangan masyarakat. Bukan hanya itu, berita mengenai suara Parkit yang indah juga terdengar sampai ke kerajaan. Raja yang tau mengenai berita itu, lantas memanggil si pemburu ke istana.
“ wahai pemburu, berikanlah burung perakeet itu padaku! ” kata raja.
“ ampunkan saya raja, saya tidak bisa memberikan burung parakeet itu pada anda ” kata si pemburu.
“ memangnya kenapa kau tidak bisa memberikannya padaku? ” tanya raja.
“ itu karena aku sangat sayang padanya ” jawab si pemburu.
“ wahai pemburu, berikanlah burung parakeet itu padaku. Jika kau memberikannya, aku akan memberikanmu uang yang sangat banyak sebagai gantinya ” kata raja.
Mendengar bahwa raja akan memberinya uang yang sangat banyak, membuatnya mulai berfikir. Setelah berfikir sejenak, ia pun setuju dengan apa yang diperintahkan raja. Parkit lantas dibawa masuk ke kerajaan, dia dimasukkan ke dalam sangkar yang terbuat dari emas. Dia juga diberikan makanan-makan yang sangat enak. Tapi meski begitu Parkit sama sekali tidak merasa senang. Dia terus bersedih dan terlihat sangat murung. Bahkan dalam beberapa hari terakhir Parkit sudah tidak mau bernyanyi lagi. Dia hanya berdiam di dalam sangkarnya tanpa melakukan apa-apa. Bahkan beberapa hari kemudian, dia sudah tidak mau makan makanan yang diberikan oleh petugas kerajaan. Dia terus diam dan memikirkan bagaimana caranya agar dia dapat bebas dan kembali lagi ke kerajaan. Akhirnya Parkit menemukan suatu ide.
“ aha aku tau, aku harus berpura-pura mati lagi seperti dulu ” kata Parkit dalam fikirnya.
“ nanti saat mereka akan menguburku, aku akan langsung terbang ke langit menjahuinya ” lanjut si Parkit.
Akhirnya beberapa hari kemudian, Parkit kembali lagi berpura-pura mati, seperti saat menghadapi si pemburu. Pegawai kerajaan yang melihatnya, lantas melaporkan berita tersebut pada raja. Raja yang mendengar berita itu merasa sedih atas kematian si parkit. Raja pun menyuruh pegawai kerajaan untuk segera menyiapkan upacara penguburan si Parkit.  Saat akan melaksanakan upacara penguburan, Parkit dikeluarkan dari sangkarnya. Ketika dilihatnya semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, Parkit pun dengan sigap langsung mengibaskan sayapnya dan terbang tinggi ke langit. Spontan raja dan pegawai istana kaget melihat si Parkit terbang tinggi ke langit. Ia pun segera kembali lagi ke hutan dan hidup damai bersama kawanannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar