Si Parkit Raja Parakeet
(Cerita Rakyat Aceh)
Alkisah,
pada zaman dahulu kala. Disebuah hutan belantara hidup seekor burung bernama
Parkit, dia memiliki suara yang sangat bagus dan enak di dengar. Parkit sendiri
merupakan pemimpin dari kawanannya, yaitu kawanan burung-burung parakeet.
Setiap
hari Parkit dan kawanannya bernyanyi dengan suka cita dan penuh semangat.
Mereka seringkali bersahut-sahutan satu sama lainnya. Di tengah suasana damai
dan sejahtera, tiba-tiba datang seorang pemburu membawa perangkap-perangkapnya.
Perangkap-perangkap tersebut diletakkan di sekitar sarang Parkit dan
kawanannya. Mereka sadar, perangkap itu adalah perangkap yang biasanya
digunakan untuk menangkap burung-burung parakeet.
“ hati-hati, pemburu itu pasti
berniat menangkap kita, sebaiknya kita jangan ke mana-mana dulu!! ” teriak
seekor burung mengingatkan.
“ iya benar, dia pasti berniat
menjual kita ” tambah seekor burung lainnya.
Mereka
pun berdiam cukup lama disarangnya. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk
keluar sebentar mencari makan. Namun, saat akan keluar mencari makan, hal yang
tak diinginkan pun terjadi. Mereka terperangkap pada jebakan-jebakan pemburu. Spontan,
kawanan burung parakeet itu meronta sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari
perangkap tersebut. Tapi, meski di coba berulang kali dan di coba dengan sekuat
tenaga, tetap saja mereka tidak bisa melepaskan diri dari perangkap pemburu
yang begitu kuat. Kawanan burung itu pun merasa bingung harus berbuat apa,
Karena segala cara dan upaya telah mereka usahakan.
Melihat
kawanannya yang bingung dan putus asa. Parkit yang saat itu juga ikut terjebak, berusaha mencari
ide untuk melepaskan dan menyelamatkan mereka semua.
“ tenanglah wahai semua kawananku!!
” ucap Parkit dengan suara lantang dan
keras, membuat semua burung terdiam dan menoleh ke arahnya.
“ perangkap ini adalah perangkap
yang dirancang untuk tidak menyakti kita, itu berarti dia mau menangkap kita
dalam keadaan hidup-hidup. Jadi, jika besok dia datang kembali untuk memeriksa
perangkapnya, aku mau kita semua berpura-pura mati ” ucap Parkit.
“ berpura-pura mati? Untuk apa? ”
tanya seekor parakeet keheranan.
Parkit pun tersenyum mendengar
pertanyaan itu, dengan bijaksana dia menjelaskan alasannya.
“ seperti yang telah aku katakan,
esok hari si pemburu akan kembali untuk memeriksa keadaan kita satu-persatu.
Jika dilihatnya kita dalam keadaan mati tak bernyawa, dia akan meninggalkan
kita semua di tempat ini. Saat itulah, aku akan menghitung satu sampai seratus.
Saat telah sampai pada hitungan ke seratus, aku mau kita semua terbang secara
bersamaan ” jelas Parkit dengan penuh bijaksana.
Mendengar
apa yang dikatakan Parkit, mereka pun mengerti dan paham apa yang akan di
rencanakannya. Serentak mereka pun setuju dengan apa yang direncanakan si
parakit. Keesokan harinya benar saja, pemburu itu datang kembali ke hutan untuk
memeriksa perangkap-perangkapnya. Betapa gembiranya hati si pemburu. Saat
dilihatnya dari kejahuan, banyak sekali burung yang terperekat di
perangkapnya. Ia pun dengan sigap
mendekati dan melepaskan burung-burung itu dari perangkapnya. Namun setelah
dilihatnya dengan seksama, tak ada satupun dari burung-burung itu yang masih
menandakan tanda-tanda kehidupan. Semua burung yang terjebak di perangkapnya
terbujur kaku seolah tak bernyawa. Ia pun merasa kecewa dan kesal, saking
kesalnya ia berjalan asal-asalan dan terpeleset jatuh ke tanah. Mendengar suara
jatuhnya si pemburu membuat kawanan burung itu kaget dan langsung berterbangan,
mereka sama sekali tidak menunggu hitungan yang dihitung oleh si Parkit. Pemburu
pun kaget bukan kepayang melihat kawanan burung itu terbang bersamaan. Ia
merasa telah dibodohi dan dipecundangi oleh burung-burung parakeet itu. Dengan
perasaan kesal ia bangkit dan memeriksa kembali perangkap yang dipasangnya.
Saat diperiksa kembali, beruntung baginya karena masih ada burung parakeet yang
belum terlepas betul dari perekatnya, burung parakeet itu ternyata adalah si
Parkit raja parakeet. Pemburu pun dengan dengan semangat melepaskan dan menangkap
si Parkit.
“ kau tak akanku ampuni ” bentak si
pemburu dengan nada yang kasar.
“ tolong ampuni saya tuan, jangan
sakiti saya ” kata si Pakit memohon.
“ enak saja kau, kau dan
teman-temanmu itu sudah mempermainkan-ku ” kata si pemburu.
“ saya mohon tuan, jika kau tak
menyakitiku, akan saya hibur kau setiap hari ” kata si Parkit.
“ menghibur? Memangnya kau bisa
apa? ” tanya si pemburu.
“ aku bisa bernyanyi tuan ” jawab
si Pakit.
“ kalau begitu, coba sekarang kau
nyanyikan satu lagu untukku! ” peritah si pemburu.
Parkit pun menyanyikan sebuah lagu
untuk si pemburu. suaranya begitu indah membuat si pemburu memutuskan untuk
tidak menghabisinya.
“ baiklah, karena suaramu sangat
indah, aku tak akan menghabisimu ” kata si pemburu.
Ia pun membawa
Parkit pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah pemburu itu mengikat kaki
Parkit dengan tali. Semenjak saat itu, setiap harinya Parkit selalu menyanyikan
lagu untuk si Pemburu. Karena suara parkit yang begitu indah, membuatnya
terkenal di kalangan masyarakat. Bukan hanya itu, berita mengenai suara Parkit
yang indah juga terdengar sampai ke kerajaan. Raja yang tau mengenai berita
itu, lantas memanggil si pemburu ke istana.
“ wahai pemburu, berikanlah
burung perakeet itu padaku! ” kata raja.
“ ampunkan saya raja, saya tidak bisa
memberikan burung parakeet itu pada anda ” kata si pemburu.
“ memangnya kenapa kau tidak bisa
memberikannya padaku? ” tanya raja.
“ itu karena aku sangat sayang
padanya ” jawab si pemburu.
“ wahai pemburu, berikanlah
burung parakeet itu padaku. Jika kau memberikannya, aku akan memberikanmu uang
yang sangat banyak sebagai gantinya ” kata raja.
Mendengar bahwa raja akan
memberinya uang yang sangat banyak, membuatnya mulai berfikir. Setelah berfikir
sejenak, ia pun setuju dengan apa yang diperintahkan raja. Parkit lantas dibawa
masuk ke kerajaan, dia dimasukkan ke dalam sangkar yang terbuat dari emas. Dia juga
diberikan makanan-makan yang sangat enak. Tapi meski begitu Parkit sama sekali
tidak merasa senang. Dia terus bersedih dan terlihat sangat murung. Bahkan
dalam beberapa hari terakhir Parkit sudah tidak mau bernyanyi lagi. Dia hanya
berdiam di dalam sangkarnya tanpa melakukan apa-apa. Bahkan beberapa hari
kemudian, dia sudah tidak mau makan makanan yang diberikan oleh petugas
kerajaan. Dia terus diam dan memikirkan bagaimana caranya agar dia dapat bebas
dan kembali lagi ke kerajaan. Akhirnya Parkit menemukan suatu ide.
“ aha aku tau, aku harus berpura-pura
mati lagi seperti dulu ” kata Parkit dalam fikirnya.
“ nanti saat mereka akan
menguburku, aku akan langsung terbang ke langit menjahuinya ” lanjut si Parkit.
Akhirnya
beberapa hari kemudian, Parkit kembali lagi berpura-pura mati, seperti saat
menghadapi si pemburu. Pegawai kerajaan yang melihatnya, lantas melaporkan
berita tersebut pada raja. Raja yang mendengar berita itu merasa sedih atas
kematian si parkit. Raja pun menyuruh pegawai kerajaan untuk segera menyiapkan
upacara penguburan si Parkit. Saat akan
melaksanakan upacara penguburan, Parkit dikeluarkan dari sangkarnya. Ketika dilihatnya
semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing, Parkit pun dengan
sigap langsung mengibaskan sayapnya dan terbang tinggi ke langit. Spontan raja
dan pegawai istana kaget melihat si Parkit terbang tinggi ke langit. Ia pun
segera kembali lagi ke hutan dan hidup damai bersama kawanannya.